Pengalaman Ikut Uji Coba Publik MRT Jakarta Hari Pertama...

JawaPos.com – Ketersediaan layanan seluler di sepanjang rute yang dilalui moda Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta dinilai begitu penting. Perusahaan telekomunikasi pun disarankan agar segera memasang jaringannya di jalur MRT.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono mengatakan, operator sebaiknya ikut mengoptimalkan masa uji coba yang diberikan mitra penyedia sarana telekomunikasi pasif PT MRT Jakarta. Hal ini guna melihat pola trafik komunikasi di sepanjang rute moda transportasi yang melayani masyarakat ibu kota.

“Setahu saya mitra penyedia sarana telekomunikasi MRT Jakarta itu memberikan kesempatan semua operator untuk melakukan trial (uji coba) gratis di rute moda transportasi itu. Operator manfaatkan masa trial itu karena bisa melayani pelanggannya dan mengevaluasi pola trafik di stasiun bawah atau di atas tanah serta selama moda melewati tunnel,” ujarnya di Jakarta, Rabu (27/3).

Operator Seluler MRT, Operator Rute MRT, Jaringan Rute MRT
Ilustrasi: MRT Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Menurut dia, langkah trial bisa dilakukan operator berbarengan dengan negosiasi bisnis, sehingga lebih efisien dan tepat waktu kala masa komersial. “Ikut trial akan memudahkan operator tahu trafik dan kebutuhan pelanggan sehingga memudahkan bagi mereka dalam berhitung cost benefit,” jelasnya.

Sementara itu, Pelaksana Dewan TIK Nasional Garuda Sugardo menilai bahwa ketersediaan layanan seluler di sepanjang rute MRT Jakarta merupakan sesuatu yang vital dan wajib dihadirkan operator seluler.

“Di zaman digital ini, ketiadaan sinyal seluler di kota metropolitan, apalagi di arena publik, adalah suatu yang mustahil. Jangan berharap terjadi migrasi pelanggan karena ada blankspot di ruas perjalanan sepanjang MRT Jakarta yang hanya butuh waktu tempuh 40 menit itu. Semua operator sejatinya harus sediakan layanan di sepanjang MRT Jakarta,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan layanan seluler tak hanya masalah memenuhi hasrat berkomunikasi pengguna, tetapi juga untuk antisipasi jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan. Misalnya krisis saat MRT berada di dalam terowongan. Sebab, menurut dia, terowongan MRT bukanlah bandara yang merupakan airspace terbuka. Terowongan ini merupakan dunia bawah tanah dengan tenaga listrik dan redundansi yang harus tersedia.

“Terowongan MRT adalah Sangkar Faraday di mana sinyal seluler mutlak memerlukan alternatif. Banyak cerita di mana nyawa manusia dapat tertolong selama ponselnya masih berfungsi. Bila tanpa pilihan, tanpa sinyal, bagaimana komunikasi dapat terjadi just in case of sadness?” tanyanya.

Senada, Sekjen Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB) M Ridwan mengakui bahwa penyediaan coverage seluler di rute MRT Jakarta merupakan hal yang penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman. “Setahu saya maintenance untuk fasilitas telekomunikasi di jalur MRT Jakarta ini agak kompleks tak sama dengan bandara atau gedung tinggi. Maintenance hanya bisa dilakukan di jam tertentu untuk fasilitas telekomunikasi. Belum lagi soal ketersediaan listrik yang harus 24 jam/7 hari. Jadi, secara teknis memang ini sesuatu yang pertama bagi Indonesia,” katanya.

Ridwan menduga banyaknya operator yang masih terkesan menunggu untuk masuk ke rute MRT Jakarta tak hanya masalah harga sewa, tetapi belum bisa memprediksi trafik yang akan didapat. “Saya lihat ini dampak dari selama ini operator perang tarif sehingga dana untuk re-investasi di jaringan yang masuk segmen baru itu mikirnya agak lama. Ini miriplah dengan menggarap area rural, kan saling menunggu. Kecuali yang memang punya investasi besar, kan mikirnya layanan utama,” ulasnya.

Padahal, tambah Ridwan, jika melihat animo dan strategisnya rute yang dilalui MRT Jakarta, sepertinya trafik yang dihasilkan lumayan menjanjikan. “Operator kalau mau maju memang jangan saling menunggu, harus ada inisiatif. Ini kan masalah brand image juga, masa sih sampai ada layanan seluler absen di MRT Jakarta yang katanya simbol peradaban baru bangsa Indonesia,” tegasnya.

Seperti diketahui, MRT Jakarta telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada Minggu (24/3) lalu. Hingga Rabu (27/3) baru ada sinyal Telkomsel dan Smartfren yang bisa dinikmati sepanjang 13 stasiun oleh para penumpang moda transportasi itu.

Telkomsel adalah pemasang layanan pertama di MRT Jakarta dengan memasang 48 BTS di 13 stasiun. Smartfren baru saja mendapatkan kesepakatan untuk memasang dan menghidupkan perangkat di MRT Jakarta pada Rabu (27/3). Sementara operator lainnya seperti XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan 3 (Tri) belum diketahui kapan jaringann akan hadir di rute MRT.

MRT Jakarta sendiri bersama mitranya telah menyediakan antena In buiilding Solution (IBS) di 408 titik pada 13 lokasi yang dilalui moda tersebut sepanjang 15,6 Km. Ada juga antena repeater sepanjang rel (24,9 km), ruang BTS (8), dan backhaul ke fiber optik masing-masing calon penyewa. Kapasitas yang disediakan meliputi 74 sektor.

Source : https://www.jawapos.com/teknologi/28/03/2019/seluruh-operator-seluler-sebaiknya-ikut-pasang-jaringan-di-rute-mrt/

731
Pengalaman Ikut Uji Coba Publik MRT Jakarta Hari Pertama...

Source:JawaPos

Pengalaman Ikut Uji Coba Publik MRT Jakarta Hari Pertama...