Teknologi Padat STEM Dan Sistem Pembayaran

JawaPos.com - Persaingan dalam sistem pembayaran digital kian ketat. Awal Februari lalu, perbankan BUMN (badan usaha milik negara) dan Telkomsel bergabung membentuk merek pembayaran digital bernama LinkAja. Platform itu akan menjadi penantang dominasi Go-Pay dan OVO.

Makin banyak munculnya pemain dalam ekosistem pembayaran digital bisa memberikan keuntungan bagi masyarakat. Sebab, tidak dimungkiri bahwa perang promo menjadi salah satu senjata andalan untuk menggaet konsumen. Artinya, semakin banyak pesaing, semakin banyak promosi yang menguntungkan konsumen.

Itu juga penting untuk menstimulus masyarakat agar lebih banyak belanja sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Perang promo itu diperkirakan bertahan cukup lama. Misalnya, yang kita lihat pada bisnis transportasi online. Dulu, promo dibilang segera berakhir. Nyatanya, hingga sekarang masih banyak promo.

Artinya, di bisnis ekonomi digital, untuk mempertahankan market share, promo akan dilakukan cukup lama. Bisa 3 atau 5 tahun. Hingga kemudian mereka menciptakan suatu barrier atau tembok yang sulit ditembus oleh pemain baru. Itu bagus dan menguntungkan masyarakat. Juga, dapat memunculkan bisnis-bisnis baru.

Saat ini masyarakat memandang pembayaran menggunakan QR code itu sebagai experience atau pengalaman baru. Banyak generasi milenial yang mencoba. Akhirnya, muncul UMKM-UMKM yang menggunakan fasilitas QR code agar bisa menawarkan experience lebih kepada konsumen. Artinya, itu membantu UMKM.

Akses pembayaran dengan dompet digital juga mendorong semakin banyaknya merchant atau toko yang terafiliasi dengan fasilitas tersebut. Dengan demikian, dapat mendorong gerakan pembayaran nontunai (cashless). Sejauh ini jumlah transaksi cashless masih kurang dari 2 persen terhadap total transaksi. Itu menandakan bahwa peran e-wallet masih dalam tahap awal. Terkonsentrasi di perkotaan, kelas menengah, dan di tempat dengan jaringan internet yang cepat.

Untuk mendorong inklusi keuangan di pedesaan, dibutuhkan e-wallet dengan teknologi yang berbeda. Lebih adaptif dengan infrastruktur yang terbatas dan bisa diakses semua masyarakat. Dengan begitu, masuknya Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) diharapkan bisa mempercepat penetrasi transaksi nontunai di pedesaan.

Secara infrastruktur, mereka memiliki jaringan perbankan sampai ke level daerah. Kelemahan Go-Pay dan OVO, mayoritas masih menyasar perkotaan. Jika LinkAja bisa menyasar hingga ke level pedesaan, itu dapat menaikkan pangsa pasar secara signifikan. Apalagi jika pemberian bantuan nontunai yang awalnya menggunakan kartu diganti menggunakan QR code.

Di Afrika, ada M-Pesa. Mungkin, kita bisa meniru model pengembangan e-wallet yang pro-inklusi keuangan. Fungsi bank BUMN kan salah satunya sebagai agent of development. Sehingga, diharapkan tidak hanya masuk ke perkotaan, tetapi juga membuka akses sistem pembayaran ke pedesaan.

Masuknya Himbara melalui LinkAja juga bisa mendorong secara masif penggunaan pembayaran digital di transportasi masal. Misalnya, diintegrasikan dengan KRL, MRT, LRT, atau Trans Jakarta. Selama ini, baru Go-Pay dengan Go-Jek dan OVO dengan Grab.

Infrastruktur digitalnya juga kuat karena bisa menggabungkan teknologi yang ada di T-Cash milik Telkomsel. Jadi, infrastruktur maupun kapasitas modal jauh lebih besar lantaran ada bank BUMN di belakangnya. Itu membuat persaingan ke depan semakin menarik.

Meskipun, dalam catatan saya, jumlah pemainnya tidak akan lebih dari 10. Hanya akan terkonsentrasi pada tiga sampai empat pemain besar, seperti halnya bisnis sistem pembayaran karena padat modal. Kita lihat pemainnya sekarang dua sampai tiga. Mereka yang menguasai infrastruktur digital, mereka yang menang.

Sayangnya, dari paper yang saya baca di beberapa negara, khususnya Singapura, India, dan Tiongkok, memang ada kecenderungan masyarakat lebih konsumtif dengan menggunakan dompet digital. Ada yang namanya delusi uang. Jadi, kalau seseorang memegang uang secara fisik, dia akan lebih merasa memiliki. Sense of belonging-nya lebih besar jika dibandingkan dengan bentuk digital.

Ada permasalahan psikologis sehingga orang lebih gampang mengeluarkan uang saat menggunakan uang digital. Ah, ini kan cuma angka-angka digital. Tiba-tiba boros. Semakin mudah, semakin cepat transaksinya, semakin boros.

Karena itu, penting mengatur pengeluaran belanja sesuai kebutuhan. Jangan terjebak pada promo. Bandingkan harga dengan penjual lainnya. Jangan karena ada dompet digital, orang jadi boros. Itulah yang harus dikontrol. Termasuk pada lingkungan sekitar sehingga gaya hidup yang terlalu konsumtif bisa dikendalikan. 

*) Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

Editor           : Ilham Safutra

Reporter      : (Disarikan dari wawancara Virdita Rizki Ratriani/c6/fal)

Source : https://www.jawapos.com/opini/19/03/2019/dompet-digital-dan-perilaku-konsumtif

673